Mengenang Masa SMA


Katanya, masa SMA itu masa yang paling indah, tapi tidak bagi saya...
Katanya, masa sekolah itu masanya kita jadi bandel, tapi tidak bagi saya...
Katanya, masa sekolah itu masanya kita dapat sahabat, tapi tidak bagi saya...

Di usia pertengahan 20, sebagian mereka mungkin sudah menemukan passion dan jati dirinya, menemukan apa yang benar-benar mereka inginkan. Tapi tak sedikit juga yang masih mencari. Masih bertanya-tanya, apakah yang saya miliki sekarang adalah buah dari apa yang saya lakukan dulu? Apakah yang saya lakukan dulu salah? Apakah saya sudah melakukan yang terbaik untuk mencapai apa yang saya inginkan?

Bagi kalian yang memasuki usia middle-20, pernah gak sih kalian ngobrol sama sahabat kalian tentang masa SMA dan menertawakannya? Atau malah menyesalinya? Atau bangga dengan masa SMA? Atau ada yang masa SMA-nya biasa aja?

Seperti halnya sekarang, ketika membicarakan masa SMA dengan sahabat, baru sadar "wah ternyata selama ini saya adalah siswa yang paling kalem" 😅 Bagaimana tidak, nih ya satu persatu:
  • (Anggap aja) Si A - Dia gak bandel, gak nakal, bahkan pendiam. Gak banyak teman, takut kalau dideketin cewek dan sebenarnya cukup pintar. Tapi...dia suka bolos, bahkan bolosnya sampai sebulan. Tapi, bolosnya dia beda ya sama bolosnya siswa pada umumnya yang pasti rame-rame dan perginya ke warnet atau nongkrong dimana gitu. Dia bolosnya sendiri, gak pernah ajak teman, dan nongkrongnya ya paling dipinggir sungai/danau. Jamnya pulang sekolah dia akan pulang ke rumah seperti biasa, jadi orang rumah tidak tau kalau dia seharian bolos. Dirumah juga ngerjain LKS + baca-baca buku, jadi ya orang rumah taunya dia belajar. Pernah sampai dikira nge-drugs sama guru BK karena badan kurus kering dan bolos sekolah sampai sebulan lebih. Pernah ditunjuk ikut Olimpiade Kimia tapi gak pernah dateng saat penambahan materi. Tapi masih dateng di hari-H, dan lolos ke babak selanjutnya. Di hari-H babak selanjutnya, dia gak dateng. Alasannya, karena saat penyisihan yang pertama gak dikasih ongkos + uang jajan 😳
  • (Anggap aja) Si B - Bisa dibilang dia cukup sukses di usia muda. Di usianya yang waktu itu masih awal 20an, dia sudah kerja di perusahaan IT besar dan punya project sampingan juga yang nilainya puluhan juta. Anaknya bisa dibilang pendiam, gak banyak gaya, juga santai. Jarang ikut acara kelas diluar, tapi tak segan berkunjung ke rumah teman-teman dekatnya. Siapa sangka jamannya SMP-SMA dia suka ikut tawuran yang sampai pakai senjata tajam. Sampai suatu kali dia kena nusuk lawan tawurannya, dan sudah siap-siap mau kabur kalau esok hari ada kabar korban meninggal dari kubu lawan. Tapi ternyata esoknya tak ada kabar apapun, jadi dia merasa aman.
  • (Anggap aja) Si C - Yang satu ini tergolong playgirl (bahasanya jadul banget ya 😁) sejak masuk SMP-SMA-bahkan kuliah. Mantannya sudah tak terhitung lagi berapa banyak. Dari mulai mereka yang satu kampung, teman sekolah SMP, teman sekolah SMA, Kuliah, bahkan mereka yang bukan dari lingkungan itu. Sekali punya pacar, bisa 2-3 orang dalam satu waktu. Putus nyambung sama pacar sudah biasa. Punya pacar yang cuma buat antar jemput sekolah, sudah biasa. Selingkuh dan ketauan pacarnya, sudah biasa juga. Dijodohkan orangtua dengan pria kaya bermasa depan cerah, pernah juga. Punya pacar anak kelas 6 SD padahal saat itu dia sudah SMA, juga pernah. Dikampungnya ada 1 geng cowok yang berisikan 8-10 orang cowok, dan hanya 1 dari mereka yang belum pernah jadi pacarnya. Apa kalian bertanya-tanya, "orangtuanya kemana? Kok sebebas itu?". Orangtuanya ada, bahkan bisa dibilang 'keras' kalau soal begituan. Sekali waktu ketauan Ayahnya ada puisi cinta dibuku sekolahnya (padahal dia sudah SMP) dia dimarahin habis-habisan oleh ayahnya. Jadi yess, semua itu dia lakukan kucing-kucingan dari orangtuanya. Hebat kan 😁. "Trus sekarang dia gimana? Masih seperti itu?" Alhamdulillah sudah enggak, dia sekarang sudah menikah dan punya anak. "Suaminya bagaimana?" Aman, suaminya juga tau masa lalunya.
  • Satu lagi deh ya (Anggap aja) Si D - Awal kenal dia anaknya pendiem banget loh, gak neko-neko dan gak ribet. Gak suka nge-gosip dan bodo amat. Ternyata eh ternyata, dia pernah 'nakal' juga pas jamannya SMP-SMA. Nakalnya lebih karena dia merasa kecewa sama hidupnya. Kenapa? Karena 2x dia gagal masuk sekolah impian yang penyebabnya bukan karena dia gak mampu, tapi lebih karena faktor lain di keluarga atau lingkungannya. Yang pertama gagal masuk SMP impian karena gak ada yang bantu dia daftar ulang, padahal sudah diterima. Dan untuk kedua kalinya, gagal masuk SMA impian pun karena hal yang sama, gak daftar ulang karena dia sedang diopname di rumah sakit selama 2 minggu. Hal ini yang bikin dia jadi gak ada semangat sekolah apalagi belajar. Yang ada dipikirannya hanya, yang penting dia masih masuk sekolah dan masih bisa naik kelas. Bodo amat mau dapat nilai berapa. Sepulang sekolah tak pernah langsung pulang, main entah kemana dan pulang ketika sudah malam.

Jadi kenapa saya bilang saya yang paling kalem? Karena diantara mereka semua, saya satu-satunya yang gak melakukan itu. Gak pernah yang namanya telat masuk sekolah, apalagi bolos. Paling gak suka sama yang namanya contek-contekan, apalagi pas ujian. Selalu berusaha dapat nilai tinggi (walaupun gak semuanya bisa dapat nilai tinggi). Selalu berusaha dapat ranking dikelas, bahkan kalau bisa jadi juara umum (dapat nilai tertinggi dari semua kelas). Gak kenal sama yang namanya pacaran.

Why? Apa saya gak bisa bandel/nakal seperti yang lain? Kalau saya mau, tentu saja bisa. Namanya bandel/nakal kan pasti bisa cari cara gimana caranya melakukan apa yang dia mau. Tapi....ya, ada tapinya. Selama saya sekolah SMP-SMA, saya merasa punya tanggung jawab kepada Kakak saya. Kenapa? Karena disaat orangtua saya yang saat itu merasa tidak akan mampu membiayai saya sekolah, justru Kakak saya yang mengharuskan saya sekolah padahal dia sendiri tidak berkesempatan sekolah (hanya lulus SD). Kata-katanya yang saya ingat sampai saat ini adalah, "Anak perempuan dikampung sudah lulus SD kalau gak sekolah lagi (melanjutkan SMP) mau ngapain dirumah? Paling ujung-ujungnya nikah. Biaya mah nanti sambil jalan juga ada".

Ya, saat itu memang di sudah kerja, bahkan sebenarnya sejak lulus SD dia sudah mulai bekerja. Apa aja kerjaannya dia tekuni. Dan memang, yang katanya "Usaha tak menghianati hasil" benar-benar saya lihat dalam dirinya. Diusianya yang waktu itu belum genap 20 tahun, dia sudah punya rumah sendiri, hasil keringatnya sendiri, tanpa minta orangtua. And, that's why I feel I have responsibility to my big brother. Dia gak berkesempatan sekolah, tapi dia yang mengharuskan saya sekolah.So, selama saya sekolah, jika ada kerjaan yang bisa saya kerjain, saya rela ngerjainnya selama itu bisa meringankan beban biaya sekolah saya :)

So, buat kalian yang saat ini masih sekolah, dan pengen ini itu, gak masalah sih asal tetap ada batasannya ya. Jika dirasa sudah melewati batas, pikirkan lagi mereka yang berjuang agar kalian bisa sekolah. Batasannya sampai mana, kalian sendiri yang tau. Karena batasan setiap orang itu beda-beda.

Cheers,
Bulek

Comments