#SisterBerbicara – Anakku, Internet dan Gadget
Pojok Pintar Sisternet @ Kominfo Press Room
Kamis, 28 Maret 2019, 14.00-16.00
Siang ini hadir di acara Sisternet dalam program
#SisterBerbicara yang mengangkat tema “Anakku, Internet dan Gadget”. Acara ini diadakan
di Pojok Pintar Sisternet @ Press Room Kominfo, dimulai jam 2 siang tepat.
Pembicara yang membawakan materi untuk tema tersebut tentunya mereka yang
expert dibidangnya. Siapa saja mereka? Berikut 3 Pembicaranya:
- Ibu Mariam F. Barata, yang merupakan Direktur Tata Kelola Ditjen Aptika yang kali ini mewakili dari pihak Pemerintah dan menjelaskan apa saja upaya pemerintah dalam membatasi konten negatif.
- Ibu Widuri, Beliau merupakan Deputy Director ICT Watch dan juga Tim Community Development Siberkreasi. Mewakili komunitas dan lembaga yang berkontribusi menjaga internet sehat di Indonesia. Kali ini beliau berbagi tentang pentingnya internet sehat untuk anak.
- Ibu Nuniek Tirta Sari, M.A. in Psycology Counseling, selain Beliau juga MBTI Trainer, dimana beliau sharing tentang memahami perbedaan kepribadian. Disini Beliau sharing tentang bagaimana cara atur pemakaian gadget anak.
- Upaya
Pemerintah Dalam Membatasi Konten Negatif
Disini Ibu Mariam menjelaskan mulai dari macam-macam konten negatif, akibat dan tentu cara pencegahannya. Konten negatif sendiri bisa berbentuk Cyber Bullying (kekerasan dan pelecehan melalui internet), Cyber Fraud (hoax, penipuan transaksi online), Porn (mulai dari artikel, gambar maupun video yang tersebar di internet), Cyber Gambling (perjudian online), Cyber Stalking (mulai dari penguntit sampai penculikan dan dimulai dari internet).Konten negatif di internet tentunya berbahaya juga seperti halnya kekerasan dan pelecahan secara langsung. Seperti misalnya Cyber Bullying, bahkan efeknya bisa lebih besar mulai dari kondisi psikis si penerima bullying tersebut sampai bisa menyebabkan bunuh diri.Dengan banyaknya hoax yang saat ini tersebar di internet dengan sangat cepat, sejatinya kita bisa mulai menghentikan hoax tersebut tersebar semakin luas. Bagaimana caranya? Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan, diantaranya kita dengan klarifikasi dan literasi digital. Kita harus bisa mengklarifikasi bahwa berita itu benar atau tidak dan darimana sumbernya. Kalau asal usul beritanya tidak jelas, ditambah artikelnya memuat kata-kata provokasi, kita harus mempertanyakan kebenarannya. Yang kedua dengan literasi digital. Apa itu literasi digital? Singkatnya literasi digital merupakan kemampuan kita dalam menggunakan teknologi digital dan alat komunikasi untuk mengakses, megelola, menganalisis dan mengevaluasi dan berkomunikasi dengan orang lain secara efektif. Jadi dari pengertiannya sudah jelas ya, kita seharusnya tidak hanya menggunakan teknologi, tapi juga harus bisa mengelola dan mengevaluasi apakah penggunaan teknologi kita sudah efektif dan tentunya memberikan manfaat pada masyarakat atau malah hanya ikut-ikutan tanpa menyaring kembali apa yang kita bagikan? Karena salah-salah sharing kita bisa jadi pelaku penyebaran hoax dan mendapat sanksi berupa tindakan hukum maupun pemblokiran media sosial.
Beberapa upaya pemerintah dalam menekan jumlah konten negatif yang tersebar di internet diantaranya, pemerintah memiliki akun @misslambehoax di instagram yang isinya mereka menganalisa apakah berita itu hoax atau bukan. Hal ini dilakukan karena temuan isu hoax di internet dalam 6 bulan terakhir terus meningkat dan peningkatan signifikan terjadi di bulan Januari dan Februari 2019.
Selain itu penanganan Situs Negatif juga dilakukan. Sampai tahun 2018 total ada 984.441 situs konten negatif yang hampir 90% adalah pornografi.
Penanganan konten negatif juga dilakukan di media sosial dengan total 547.506 konten dengan dominasi terdapat di media sosial Twitter.
Pemerintah juga telah membuat Undang-Undang untuk mengatur penggunaan internet sehat dengan menerapkan beberapa pasal yang menangani hoax pencemaran nama baik, hoax yang menyebabkan kerugian konsumen, hoax tentang ujaran kebencian dan SARA, dan hoax keonaran.
Ibu Mariam juga mengajak kita masyarakat Indonesia sebagai pengguna internet (yang mana sudah menjadi kebutuhan di era ini) untuk melakukan Digital Detox Dare dimana dalam 1 hari kita tidak menggunakan perangkat elektronik seperti smartphone dan komputer untuk mengurangi stress dan kembali fokus pada kehidupan sosial yang nyata.
Materi yang disampaikan oleh Ibu Mariam tentunya membuka mata kita bahwa Pemerintah telah melakukan banyak upaya untuk membatasi konten negatif yang masuk ke Indonesia, tinggal bagaimana kita sebagai masyarakatnya harus bisa lebih cerdas dalam memanfaatkan teknologi yang ada. - Pentingnya Internet Sehat Untuk AnakMateri kedua dari acara #SisterBerbicara ini dibawakan oleh Ibu Widuri dengan sangat apik menurut saya, karena beliau banyak memberikan contoh real case yang lebih related dengan kehidupan para Sisters dengan putra-putrinya. Salah satu slide menariknya adalah bagaimana Beliau menggambakan resiko yang ada di internet dan bagaimana runtutan terjadinya. Dimulai dengan yang paling atas adalah yang sebagian besar dari kita mungkin sudah mengalami tanpa menyadarinya yaitu Kecanduan. Tanpa kita sadari, berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk berinternet kadang lebih banyak dari kehidupan nyata kita. Dan kemudian masuk Konten Negatif (ikut-ikutan share berita tanpa disaring dulu apakah beritanya benar atau tidak, dan berujung hoax), Cyberbully (ikut-ikutan menilai suatu postingan yang hanya kita tahu sepenggal ceritanya), Pelanggaran Privasi (yang sering tidak disadari adalah ketika orangtua terlalu mengekspos foto anak-anaknya yang masih balita), Predator Online (para orangtua ataupun kita sendiri yang kadang tidak sadar bahwa apa yang telah terupload akan selamanya ada disana, jika suatu saat dipakai oleh orang yang salah, itu bisa disalahgunakan), dan yang terakhir adalah Radikalisme (jika kita tidak pintar-pintar memilih situs yang kita kunjungi atau memantau situs yang anak-anak kita kunjungi, salah salah malah masuk ke dalam kelompok radikalisme).Ibu Widuri menjelaskan ada 3 hal yang perlu kita tekankan sebelum memberikan gadget ke anak yaitu kebutuhan, tanggung jawab dan resiko. Diskusikan ke anak-anak, kenapa mereka membutuhkan gadget, tanamkan pemahaman bahwa untuk membeli atau memiliki sesuatu itu harus berdasarkan kebutuhan, bukan karena keinginan atau sekadar mengikuti tren. Kemudian diskusikan tentang tanggung jawab, orangtua berhak menanyakan untuk apa dan bagaimana teknologi tersebut digunakan. Dan yang terakhir berikan pemahaman tentang resikonya. Resiko apa saja yang mungkin timbul dari penggunaan gadget dan internet. Ingatkan anak untuk menceritakan kepada orangtua jika ada hal yang membuatnya tidak nyaman dalam penggunaan gadget dan internet.Yang tidak kalah penting untuk diberikan pemahaman kepada anak adalah tentang kepemilikan gadget dan pendampingan. Tegaskan kepada anak bahwa gadget tersebut adalah milik orangtua yang dipinjamkan kepada anak jadi orangtua berhak tau untuk apa gadget itu dipakai. Orangtua berhak mendampingi anak selama penggunaan gadget dan orangtua berhak mengambil kembali gadget tersebut jika penggunaannya tidak sesuai kesepakatan.Tentang waktu penggunaan gadget. Berikut adalah ilustrasi dari slide materi Ibu Widuri yang menjelaskan penggunaan gadget berdasarkan usia anak.
Waktu penggunaan gadget anak juga bisa ditentukan dalam bentuk batas waktu per hari atau per periode waktu tertentu. Misalnya, hanya saat hari libur dan akhir pekan, atau hanya 1 jam setelah pulang sekolah. Terapkan juga pada saat waktu bebas gadget, yang artinya dalam waktu tersebut tidak boleh ada gadget. Misalnya saat makan, belajar atau menjelang tidur.Yang terakhir adalah panduan orangtua. Jika para orangtua teliti sebelum memberikan gadget atau menginstall aplikasi untuk anak, disetiap aplikasi telah ada rating dan batas usia minimal untuk menggunakan suatu aplikasi. Para orangtua juga bisa mengecek sebuah aplikasi sebaiknya digunakan untuk usia berapa pada situs www.commonsensemedia.org dan ingat bahwa setiap aktivitas yang kita lakukan di internet memiliki jejak digital. Orangtua juga sebaiknya menggunakan aplikasi “Parental Software” untuk mengontrol penggunaan gadget anak. Beberapa contoh Parental Software yang bisa digunakan adalah Qustodio, Kidoz, Monitory, Norton Family, dan Kiddoware. Catatan penting, berikan pengertian pada anak kenapa orangtua harus memasang aplikasi tersebut, jangan memasang aplikasi tersebut tanpa pengetahuan dari anak. - Cara Atur Pemakaian Gadget Anak
Nah, materi yang terakhir ini dibawakan oleh Ibu Nuniek Tirta, mewakili sisi orangtua yang juga Konselor. Materi yang beliau share adalah pengalaman dari apa yang sudah beliau terapkan dalam mendidik anak-anaknya, dan berhasil.
Hal pertama yang ditekankan oleh Ibu Nuniek bahwa apa yang beliau dan suami terapkan dalam mendidik kedua putrinya adalah hasil kesepakatan bersama dengan suami, karena dalam rumah tangga suami dan istri harus satu suara. Jadi, bagaimana beliau dan suami mengatur penggunaan gadget pada kedua putrinya, berikut beberapa poin yang beliau jelaskan.
- Know your “WHY” before your “HOW”
Sepaham dengan penjelasan dari Ibu Widuri sebelumnya, sebelum memberikan gadget ke anak, orangtua harus tahu dulu “Kenapa”-nya bukan “Bagaimana”-nya dulu. Kenapa anak-anak perlu dikasih gadget? Atau kenapa anak-anak membutuhkan gadget? Setelah tahu kenapanya, baru setelah itu orangtua bisa memutuskan bagaimana memberikan gadget yang tepat untuk anak, bagaimana mengontrolnya, dan bagaimana mendiskusikan penggunaannya bersama anak-anak.
- Memahami Perbedaan Kepribadian AnakDi poin ini Ibu Nuniek menjelaskan pentingnya memahami perbedaan kepribadian anak. Karena dengan memahami perbedaan kepribadian anak, orangtua akan tahu bagaimana pendekatan yang tepat kepada anak. Orangtua akan tahu apa saja hal yang bisa memotivasi anak-anaknya. Ibu Nuniek sendiri menjelaskan bahwa ada tipe anak yang motivasi utamanya adalah untuk mendapatkan kesenangan. Tipe anak ini biasanya termotivasi dengan iming-iming rewards. Jadi mereka akan termotivasi jika sudah dijelaskan dulu haknya apa, baru dijelaskan kewajibannya. Sedangkan tipe yang lain adalah tipe anak yang termotivasi karena ingin menghindari kesusahan. Tipe anak ini akan termotivasi jika dijelaskan kewajibannya dulu baru setelah itu dijelaskan haknya. Cara pendekatan kedua tipe anak ini tentunya berbeda dan akan berhasil ketika orangtua aware dan paham tentang perbedaan kepribadian anak-anaknya.
-
Tools: Parenting Control AppsUntuk mengontrol penggunaan gadget pada kedua putrinya, Ibu Nuniek dan suaminya menggunakan beberapa aplikasi diantaranya Qustodio, Screentime dan Kiddoware. Untuk saat ini sendiri, aplikasi yang dirasa maksimal dan featurenya lengkap adalah Qustodio dimana aplikasi tersebut tidak hanya bisa disetting untuk handphone, tapi juga perangkat elektronik lainnya seperti PC dan Xbox. Sebelumnya Ibu Nuniek dan suami pernah menggunakan Screentime, tapi sayangnya hanya bisa dipasang di handphone saja. Jadi jika di handphone screentime-nya sudah habis, anak-anak masih bisa mengakses PC ataupun Xbox. Sedangkan untuk Kiddoware, Ibu Nuniek menjelaskan bawa aplikasi ini cocok untuk anak yang masih dibawah 7 tahun, karena aplikasi ini memiliki feature Kid Place yang menyaring aplikasi mana yang cocok untuk anak-anak. Tapi minusnya, feature yang ada di Kiddoware harus diinstall secara terpisah.
- Know your “WHY” before your “HOW”
Poin penting yang kita dapatkan disini adalah yang pertama kita (para orangtua) kadang terlalu fokus untuk mengontrol penggunaan gadget anak tapi diri kita sendiri tidak dikontrol dalam menggunakan gadget. Kedua, penggunaan aplikasi untuk mengontrol penggunaan gadget anak harus didiskusikan bersama anak, tanamkan tentang manfaat dan resiko penggunaan gadget. Ketiga, memahami perbedaan kepribadian anak tentu sangat penting untuk menetapkan cara pendekatan yang tepat kepada anak, termasuk dalam menyampaikan batasan penggunaan gadget pada anak.
Semoga materi ini bisa bermanfaat bagi banyak orangtua (dan calon orangtua) diluar sana dalam mendidik dan mengawasi anak-anaknya dalam penggunaan teknologi dan gadget.
Cheers,
Bulek

Comments
Post a Comment