Pernah menyesal kuliah bukan di Kampus impian ?

Lulus SMA, masuk kuliah di Kampus impian di jurusan impian dan setelah itu bisa kerja sesuai jurusan kuliahnya di perusahaan besar atau ternama dan punya jenjang karier yang bagus di perusahaan.


Mmm enak banget ya dibacanya. Mungkin sebagian dari mereka bisa semulus itu. Tapi tak sedikit  dari mereka yang harus berjuang lebih tidak hanya untuk bekerja, bahkan untuk kuliah mereka harus banting tulang sebelum akhirnya bisa kuliah dan itupun bukan di Kampus impian. Dan sebagian lagi harus merelakan kesempatan belajar di Kampus impian karena kondisi ekonomi ataupun restu orangtua. Karena bagi saya, kesempatan untuk bisa belajar tidak hanya tergantung dari diri sendiri, tapi juga orangtua, keluarga dan lingkungan.

Dibandingkan mereka yang biasanya sudah punya impian mau kuliah dimana sejak dibangku SMA dan berlomba-lomba ikut ujian Universitas impian begitu selesai ujian nasional, saya tidak. Bagi anak SMK jurusan Akuntansi, penghargaan tertinggi setelah lulus adalah bisa masuk STAN. Ya STAN. Siapa sih yang gak tau STAN dan gak ingin masuk STAN kala itu? Bagi SMK Negri di sebuah Kabupaten, bisa masuk STAN akan membuat tidak hanya orangtuamu bangga, tapi juga sekolah dan guru-guru. Kisahmu akan diceritakan selama beberapa tahun ke depan sebagai motivasi adik kelas.


Bukan tidak ingin masuk STAN, tapi bagi saya waktu itu, bahkan untuk ambil formulir pendaftaran STAN saja saya tidak mampu. Belum lagi butuh biaya selama test, karena testnya dilakukan diluar kota selama beberapa hari dengan sistem gugur. Saya bahkan tak sanggup lagi meminta orangtua karena bisa sampai SMK saja, saya sudah sangat bersyukur dan merupakan kebanggaan untuk saya.

Jadi apa impian saya setelah lulus SMK? Bekerja dan nabung untuk kuliah. Kuliahnya dimana? Saya belum yakin saat itu, tapi yang pasti di Jakarta. Setelah bekerja di Jakarta, masih dengan mindset anak Akuntansi, 2 tahun kemudian saya ikut ujian masuk STAN tapi ternyata gak lolos. Akhirnya saya mendaftar kuliah di Kampus lain di tahun berikutnya, setelah 3 tahun sejak saya lulus SMK.

Sempat bimbang mau ambil Matematika, Bahasa Inggris atau Teknik Informatika, akhirnya saya ambil Teknik Informatika. Kenapa 3 Prodi itu yang dipertimbangkan?
  1. Matematika. I love mathematic since I were primary school (as long as I remember). Tapi sayangnya di Kampus tersebut Prodi itu masuknya Pendidikan, jadi mindsetnya langsung "masa nanti saya jadi guru?" at that time, Jadi akhirnya di coret.
  2. Bahasa Inggris. Cause I can't speak english.  Ya, dulu sempat mempertimbangkan masuk Bahasa Inggris hanya karena ingin bisa berbahasa inggris. Percaya gak percaya, saya gak pernah paham apalagi bisa berbahasa inggris sampai lulus SMK. Saya baru bisa sedikit berbahasa inggris setelah saya bekerja di Jakarta itupun karena mulai kenal lagu dan film yang berbahasa inggris. Tapi balik lagi ke nomor satu, Prodi Bahasa Inggris pendidikan juga, and I won't to be a teacher. Jadi coret lagi.
  3. Teknik Informatika. Alasan simple memilih Teknik Informatika yaitu, karena saya gak mau jadi gaptek. Ya, sesimpel itu alasannya. Dan akhirnya saya pilih Teknik Informatika dan lulus as Sarjana Komputer.

Seperti kebanyakan orang, setelah lulus kuliah pasti ingin kerjaan baru ataupun jabatan baru. Tapi saya baru setelah satu tahun lulus kuliah, akhirnya saya bisa dapat kerjaan baru. And then, I realized many things, here's the things:
  1. Selama saya kuliah, tidak ada bedanya dengan sekolah. We don't have any update about how we work later. We don't have any connection to the company or people who can inspired us.
  2. Kita tidak pernah diajarkan untuk siap bekerja apalagi untuk jadi entrepeneur. Yang mereka sampaikan hanya sebatas materi yang sudah disiapkan.
  3. Ilmu yang kita dapat di Kampus hanya sekulit ari dibandingkan requirement dari perusahaan-perusahaan pencari pekerja.
  4. There is nothing to be proud of my campus.

So, apakah saya pernah menyesal kuliah bukan di Kampus impian? Kalau dibilang pernah, ya pernah ada rasa itu. Kenapa saya harus masuk Kampus itu? Kenapa saya gak cari Kampus lain yang lebih bonafid, yang pasti ilmu yang saya dapat akan lebih berguna di dunia kerja? Tapi sekarang, bukan waktunya lagi tanya kenapa, tapi bagaimana kita harus bersyukur atas apa yang kita capai saat ini. Jika saya tidak kuliah di Kampus tersebut saya belum tentu ada di posisi saat ini, dan jika saya tidak kuliah di Kampus itu, belum tentu hidup saya lebih baik dari sekarang. Karena kuliah di Kampus bonafid juga tidak menjamin kita akan dapat kerjaan bonafid. Jika saya tidak kuliah di Kampus tersebut, belum tentu sekarang saya tau dan kenal dengan orang-orang keren yang selalu menginspirasi.

Jadi sekarang lebih fokus tentang bagaimana hidupmu juga bisa menginspirasi dan bermanfaat bagi orang lain.

Cheers,
Bulek

Comments